IBU

Siapa yang tidak tahu siapa itu ibu ? Ya, ibu adalah orang yang telah melahirkan, merawat dan membesarkan kita. Ibu adalah orang yang selalu mengasihi kita. Ibu adalah orang tua kita.

Itu adalah pandangan singkat dan umum tentang siapa itu ibu. Lalu bagimu, wahai anak-anak yang lahir dan besar dalam pelukan ibu, siapakah ibu buatmu ? Pernahkah kalian berpikir sejenak tentang arti ibu untukmu ? Jika belum, maka lakukanlah sekarang!

Saat ini banyak anak yang tak lagi hormat pada ibunya. Apa kau termasuk diantaranya ? Jika ia segeralah bertaubat dan minta maaf pada ibumu! Memangnya kau pikir siapa dirimu tanpa ibumu ? Apa kau bisa lahir ke dunia tanpa adanya ibu ? Get in your head!

Jika banyak diantara kalian kaum pria yang merendahkan atau meremehkan dan bahkan sampai berani melecehkan kaum wanita, berhentilah mulai sekarang. Ibu mu juga seorang wanita. Tidakkah kau tahu ibumu telah berkorban untukmu bahkan sebelum kau lahir ke dunia ? Dan setelah pengorbanannya itu apa kau akan membalasnya dengan kesombonganmu itu dan merendahkannya ?

Sekarang ini apa yang sudah kau berikan pada ibumu ? Sebongkah berliankah ? Sebatang emas kah ? Semua itu tak cukup untuk membayar semua jasa dan pengorbanan yang telah di berikan oleh ibu. Jika belum bisa memberi apa-apa pada ibumu janganlah menuntut yang macam-macam. Di luar sana banyak anak yang kehilangan ibu mereka, mereka amat sangat mendambakan sosok seorang ibu di kehidupannya. Sedangkan kita, ibu kita masih ada di dunia tapi apa yang kita perbuat ? terkadang kita mencelanya dan sebagainya .

Hormati dan sayangilah selagi ibumu masih ada di dunia. Jangan pernah membuatnya marah karena setiap kata dan kalimat yang di ucapkan seorang ibu itu adalah doa, dan doa nya pasti dikabulkan. Sayangilah dia seperti dia menyayangimu. Sesungguhnya dia tak pernah menuntut apa-apa darimu. Dia hanya ingin melihat kau berkata padanya bahwa kau telah menjadi orang yang sukses.

Terimakasih Ibu.

Siapa Aku ???

Siapa aku ? Aku bukan siapa-siapa. Aku hanyalah hambah Allah yang jauh dari kata sempurna. Manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Manusia yang penuh dosa.

Aku lahir kedunia melalui rahim ibuku tercinta. Aku terlahir sebagai satu-satunya anak perempuan dari empat bersaudara. Tuhan telah mengirimku pada keluarga kecilku ini. Keluarga sederhana yang telah merawatku dengan penuh kasih dan sayang.

Keluargaku pula yang telah mendidik dan mengajariku banyak hal. Mereka juga mengajariku tentang apa itu hidup sebenarnya. Membuatku tidak lalai dalam menjalani hidup apalagi menyianyiakannya. Dan utamanya, mereka membuatku mengerti untuk apa sebenarnya aku hidup.

Setiap orang terlahir dengan tujuan hidupnya masing-masing. Dan setiap orang bebas menentukan tujuan hidupnya masing-masing. Tak terkecuali siapapun. Termasuk juga denganku.

Tapi bagaimana orang menentukan tujuan hidup mereka ? Setiap orang memiliki cara berbeda untuk menentukannya. Banyak yang berawal dari mimpi. Banyak juga yang terinspirasi oleh orang lain. Dan banyak pula yang termotivasi oleh keluarga atau orang-orang yang disayang.

Sepertihalnya denganku. Saat ini memang aku bukan siapa-siapa. Aku hanya murid SMK biasa yang bermimpi menjadi seorang professional software engineering. Tapi dukungan dan kasih sayang keluargaku membuatku ingin menjadi orang besar dan sukses. Dan dukungan itu semakin menguatkan tekadku untuk mewujudkan mimpiku.

Aku yakin aku pasti bisa mewujudkan mimpiku demi keluarga tercintaku!

SIXTHSENSE

“Mama, mamaaaaaaa!!!”
“Mamaaaaaaaaaa!!!”
“Ya ampun! Ada apa Dyah? Kenapa? Ada apa?” Mama memelukku, aku begitu gemetar ketakutan, keringat dingin membasahi seluruh tubuhku.
“Kenapa teriak-teriak? Malam-malam begini? Kenapa kamu?” Tanya mamaku panik. Aku segera menunjuk ke depan dengan gemetaran, tepat di dekat jendela kamar.
“Hantu itu datang lagi Ma, Dyah takut…matanya, matanya merah…Dyah takut, Ma?!” Jawabku memelas, mama kemudian memelukku, kembali menenangkan. Tapi tetap saja tak mampu mengusir ketakutan, setan biadab itu masih saja nyengir di depanku, dan sialnya mama tak bisa melihatnya.
“Udah, kamu tidur lagi, ya? Biar Mama temani kamu!” Ujar mama sambil membelai rambutku. Aku menggeleng.
“Lho? Kok nggak mau?”
“Dyah pengen pindah kamar Ma, pindah ke kamar Mama aja….” Pintaku memelas. Apa boleh buat akhirnya aku dibawa mamaku pindah ke kamarnya. Tapi walaupun begitu aku tetap saja tak bisa tidur.
****
Sudah sejak kecil aku mengalami hal seperti itu. Hantu, mahkluk tak kasat mata, ataupun jin. Aku tak habis pikir ternyata aku termasuk anak cristal children, yaitu anak yang memiliki bakat keturunan dari orang tuanya. Kakekku, papaku, juga budeku. Bahkan garis keturunan keluarga papaku hampir semuanya keluarga spiritual.
Namaku Dyah, Dyah Fitri Sekarlangit. Saat ini aku sedang duduk di bangku SMP, tepatnya kelas tiga. Yah, aku terkenal mempunyai IQ tertinggi di sekolahan, langganan juara kelas, ataupun sering mendapat penghargaan lomba di sekolah maupun di luar sekolah. Tapi, di balik semua itu aku menyimpan sejuta ketakutan. Setiap hari, jam, menit, bahkan setiap saat.
Mana ada anak tidak gila lihat pemandangan serem di depannya. Jelas, sejelas melihat manusia. Coba deh bayangkan jika kalian di posisi aku. Oke deh, memang aku sejak kecil bisa melihat mahluk-mahluk itu. Tapi aku dulu tak begitu jelas seperti sekarang ini.
“Ma, Dyah pulang!” Kucopot kedua sepatuku, kemudian kutaruh di rak sepatu dekat pintu masuk rumah, sepi menyapa saat masuk ke ruang tamu, tak terlihat mama. Biasanya beliau sering sesiang ini duduk manis di depan teve melihat acara favoritnya, telenovela.
“Ma, Mama…!” Aku terus memanggil mama, sambil berjalan manuju kamar.
“Maa…!”
Aku terkejut setengah mati, tiba-tiba kata-kataku tersangkut di tenggorokan. Mataku dengan jelas melihat apa yang di tempat tidur. Seorang kakek-kakek bertampang horror duduk di tempat tidur. Mata kirinya sipit tapi mata kanannya berlubang dan mengeluarkan banyak darah.
Mulutnya sobek nyaris sampai telinganya, tubuhnya kurus serta kedua tangannya buntung, dan dia menatapku dengan tajam.
“Mamaaaaaaaaa!!!” Aku lalu memutar tubuhku sambil berteriak, kemudian kabur dari kamar, dan berlari mencari mama.
“Mamaaaaaa!!!” Aku terus berteriak dan lari. Sampai tiba-tiba aku menubruk sesuatu.
“Mama?” Aku lega, mamaku ternyata lagi di dapur, ia sedang mengiris-ngiris sesuatu. Kupeluk tubuhnya dari belakang dan menangis sejadinya.
“Mama to…tolongin Dyah, Ma!”
“Dyah ketemu hantu lagi, Ma!” Aku mengadu. Heran mamaku diam tak bereaksi sama sekali, dia tetap mengiris-ngiris. Aku terus menangis, mungkin mama saking sibuknya tidak dengar aku menangis, tapi dengan jarak sedekat ini kenapa mama tidak dengar?
Tiba-tiba aku mencium bau busuk, seperti bau bangkai. Dan bau itu berasal dari mama. Aku tersadar kemudian aku melihat kearah mama. Mataku kembali membola saat sepintas tak sengaja kulihat apa yang ia lakukan. Ia mengiris jari-jarinya, dan aku kembali tersentak dengan apa yang kulihat selanjutnya, ia bukan mamaku! Wajahnya buruk, pipinya rusak dipenuhi belatung, dan matanya….matanya berlubang.
“Aaaaaaah!!!” Aku lari sempoyongan, lari, lari, dan terus lari. Sampai tiba-tiba aku tersandung kakiku sendiri dan tepat kepalaku membentur dinding. Akibatnya pandanganku berubah hitam.
Dan tak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
****
Mataku pelan-pelan terbuka, ya ampun sakit sekali kepalaku! Kulihat aku seperti kenal tempat ini… kamar kakakku! Benar dugaanku, di sebelah aku terbaring, kakak tersenyum padaku.
“Dyah, loe udah sadar sayang?”
“Mmm…Kak! Aduuh….” Aku merintih, memegang kepalaku. Ya ampun apa ini? Keningku seperti ada bungkusannya, perban? Sejak kapan aku diperban gini?
“Tadi gue lihat loe tidur di deket dinding ruang makan, gue kira loe main-main eh ternyata kepala loe banyak ngeluarin darah…gue panik, mama juga. Terus gue panggil dokter. Syukurlah loe nggak kenapa-kenapa….”
Aku terpana mendengar apa yang di katakan kakakku.
“Mama mana Kak!?”
“Mama sedang pergi ke warung, loe kenapa sih bisa kayak gini?” Tanya kakakku. Aku diam, teringat kejadian tadi, begitu ngeri kubayangkan. Aku tidak mau katakan hal itu ke kakak, nanti dia tak percaya lagi.
“Ya udah, kalo elo nggak mau cerita, loe tidur aja ya, entar biar gue omong ke mama….” Ujar kakak. Aku mengangguk, kemudian mencoba menutup mata, dan ku rileks-kan pikiran.
****
Sekolah, 16.30 WIB
Hujan, aku menunggu di koridor sekolahan sendirian. Teman-temanku sudah pada pulang nekat menembus hujan yang deras, guru-guru atau karyawan-karyawan sekolahku tak terlihat lagi. Tinggal aku yang menunggu dengan kekhawatiran yang lebih.
Aku sudah berdiri di sini dua setengah jam, tanpa teman. Hujan semakin ganas turun, seperti tak habis-habis turun. Puh! Mama pasti cemas, tapi bagaimana lagi.
“KLAAANG!!”
Aku tersentak kaget, suara yang aneh menggetarkan keberanianku, membangunkan ketakutanku. Suara apa sih itu?
“KLAAANG!!!”
Lagi, aku mulai panik. Pasalnya tak kulihat apapun di sekitarku, mataku sudah lincah menyapu seluruh sekitar tempat aku berdiri.
“Jangan lagi ya Tuhan, gue nggak mau lihat di sini, gue takut….” Aku berbisik, sambil mataku liar melihat kesana kemari.
“KLAAANG!!!”
Ya ampun suara itu lagi. Otomatis aku memejamkan mataku, meringkuk gemetaran. Dalam ketakutanku aku tak mau lagi melihat sekitar, apalagi belakangku. Serentak bulu kudukku mulai teratur berdiri. Mampus aku, aku tidak mau lihat!
“KLANGGG!!!”
“TRSSSSKKK!!!”
“KRSSSSS!!!”
Suara-suara tidak karuan bin ganjil bersahutan seperti di komando, aku semakin tersiksa, kedua telingaku kututup rapat-rapat dengan kedua telapak tangan, dan mataku terus kututup erat-erat. Suara-suara itu terus terdengar menyiksa, mengganggu, dan terus berlomba-lomba untuk membuatku panik.
Lima menit lamanya suara-suara itu mengalun ganas, kemudian samar-samar menghilang. Setelah semuanya tenang, aku masih tidak mau membuka mataku. Takut masih menyelimutiku, nyaliku sudah hilang tidak tahu perginya kemana.
Hujan tidak mau berhenti, seperti mengejek derasnya tambah nggak ketulungan. Pelan-pelan kubuka kedua mataku, tapi aku masih tidak mau melihat kebelakang.
“KREEES!!!”
Apalagi sih itu? Tiba-tiba sebuah suara terdengar pelan di belakangku, aku kembali waspada. Belum selesai aku bernafas lega, sudah mendapat sesuatu yang tidak enak lainnya.
“Enggg!!!” Suara erangan terdengar di belakangku, mampus aku! Bulu kuduk yang tadi sudah berangsur tidur, bangun lagi.
“Eh, loe…tolong… cariin kepala gue, dong!!!”
Aku melotot apa yang kudengar, entah kekuatan dari mana aku menoleh, nyaris jantungku copot, seorang anak dengan seragam sama persis denganku berdiri kurang lebih sepuluh meter dariku tanpa… kepala? Leher… lehernya mengucur darah yang banyak, seperti air mancur…!
“Aaaaaaaaaahhh!!!” Aku teriak dan nyaris gila dibuatnya, langsung aku pontang-panting ambil langkah seribu kabur menembus hujan. Aku terus lari, walau kusadari samar-samar kudengar teriakan anak tadi, sejenak aku berpikir, kenapa dia bisa ngomong, padahal kepala tak ada? Uah! Masa bodoh, yang penting aku kabur, tidak mau ah nanti malah kepalaku yang diambilnya.
Aku terus lari, menembus lebatnya jarum-jarum air ini, seragamku sudah basah, sampai terlihat kaos olah ragaku yang kupakai di dalam seragam sekolahku. Aku tetap tak peduli, aku terus saja lari.
Lebih dari dua menit aku berlari, aku sudah ngos-ngosan, tapi yang buat aku heran sampai saat ini tidak ada orang yang kutemui satupun. Pada kemana orang-orang? Padahal aku melewati jalanan yang biasanya sangat ramai ini, dan ini adalah dekat dengan kota. Masa Kemayoran hujan deras seperti ini bisa sesepi kuburan sih? Wah suasananya kok kompak, buat aku seperti di film-film horror.
Aku kemudian memelankan jalanku, aku mulai menghilangkan kejadian ngeri tadi. Kemudian aku berhenti tepat di sebuah TK, lalu duduk mengatur nafas di bangku ayunan.
“Capek, ya?” Sebuah suara terdengar.
Aku kaget, kemudian aku menoleh ke asal suara itu. Fuh! Untunglah itu orang, tapi siapa dia? Pakai pakaian kemeja warna putih, rambut hitam gondrong di ikat rapi, berkacamata, tapi di lihat-lihat cakep juga tuh cowok. Sambil terus memayungi dirinya dengan payung putihnya, ia mendekatiku.
“Hai!” Sapanya ramah. Mata sipitnya terlihat jelas di balik kaca matanya, senyumnya begitu bersahabat.
“Gue lihat loe kaya habis lihat setan?” Tebaknya. Heheh! Dia kok tahu?
“Apa loe lihat gue kayak habis liat setan, Mas?” Tanyaku. Mata sipitnya menutup, dan senyumnya ia sunggingkan.
“Mata loe nggak bisa bohong dan itu terlihat jelas oleh gue…” Ujarnya telak. Busyeet, seperti tahu saja…
“Di mana loe lihat setan? Di sekolah ya?”
Wow! Dia tahu lagi, bagaimana ia bisa tahu aku lihat di sekolah.
“Kenalin gue Adam, gue juga kaya loe, terlahir sudah bisa lihat hal-hal yang berbau spiritual…” Ia tersenyum lagi, tangannya terulur ke arahku, kusambut. Tapi kok dingin? Ah masa bodoh!
“Dyah, Dyah Fitri Sekarlangit…”
“Nama yang indah, manis, seperti orangnya…” Pujinya. Aku tersipu, seperti disuruh nikah.
“Makasih….”
“Apalagi diberi karunia bisa melihat hal yang gaib, beruntung deh…” Ujarnya kemudian. Namun kata-katanya membuat air mukaku berubah, hatiku seperti tersengat listrik beribu-ribu volt. Aku tak setuju dengan kata-katanya.
“Maaf, kayanya gue nggak begitu deh…” Aku tetap hati-hati bicara. Adam tersenyum.
“Kamu takut?” Tebaknya. Aku mengangguk cepat.
“Kenapa harus takut, mereka nggak jahat kok sama kita?”
“Apa! Nggak jahat kata loe? Buktinya barusan gue ditakut-takuti, diganggu tiap hari…nggak malam nggak siang mereka semua mengusik hari-hari gue!” Aku meninggikan suaraku, tapi Adam tetap tersenyum tenang.
“Mereka hanya memperlihatkan mobilitasnya ke loe, memberi tanda bahwa mereka ada di situ, di tempat itu….”
“Tapi, tapi kenapa cara mereka seperti itu…kenapa harus buat gue ketakutan setengah mati, kenapa?”
“Dyah, karena itulah cara mereka berkomunikasi ke elo, dengan cara mereka masing-masing….” Terang cowok itu. Aku terdiam, kupandangi hujan yang mempermainkan daun akasia. Daun-daunya bergoyang-goyang saat butir-butir hujan mengenainya.
“Kecuali, kalau loe mengganggu mereka, jelas mereka akan marah….” Adam tersenyum padaku, aku juga ikut tersenyum, walau dalam hati aku masih agak takut.
“Sekarang, ayo ikut gue!” Adam melangkah meninggalkan tubuhku pelan, segera aku ikuti dia dari belakang. Aneh seolah aku tertarik dengannya.
Aku terus mengikuti langkahnya, tak tahu mau kemana tapi yang kutahu aku semakin tertarik dengannya. Lima menit akhirnya aku sudah tahu akan kemana, sebuah rumah sakit, ternyata tujuannya.
“Mau apa ke sini, Dam?” Tanyaku bingung. Adam tersenyum lagi, kemudian ia memasuki halaman rumah sakit itu, aku terus mengikutinya.
“Dyah, coba lihat itu…!”
Aku mengikuti arah tangannya yang menunjuk sesuatu. Astaga! Segera aku menutup mulutku, nyaris jantungku copot. Aku melihat seorang kakek-kakek duduk-duduk di kursi koridor rumah sakit, kepalanya bocor, darah seperti tidak berhenti keluar dari kepalanya, tangan kirinya bengkok, dan yang buat aku tak tega, melihat kaki satunya tak ada.
“Loe jangan takut, Dyah, kakek itu baru saja meninggal, baru saja!” Ujar Adam, seolah ia tahu akan ketakutanku. Aku memandangi Adam, mataku berkaca-kaca. Adam tersenyum lagi kepadaku.
“Terus… terus apa maksud loe ngajak gue ketempat ini, Dam?”
“Uji nyali loe di sini, Dyah!”
“Maksud loe apa, Dam?”
“Dekati kakek itu, sentuh dia, ajak ia ngomong…!” Ujarnya tegas. Aku terperanjat, nyaris jantungku meluncur ke perut.
“Loe gila ya? Entar dia ngapa-ngapain gue gimana?”
“Tenang, coba deh!”
“Tapi, Dam….”
“Dyah, percaya sama gue…nanti loe akan tahu kalau makhluk seperti itu nggak berbahaya, cobalah!” Bujuknya. Aku melangkah ragu menuju kakek itu, sampai hampir dekat dengan kakek itu aku menoleh ke arah Adam, Adam tersenyum dan mengangguk padaku.
Aku kemudian telah tepat di sampingnya, kulihat kakek itu menunduk, dan darahnya masih menetes keluar dari pori-pori kulit kepalanya yang plontos.
“Kek…” Aku memanggilnya pelan, kakek itu diam saja, aku menggigit bibirku.
“E…e…Kek!” Kucoba lagi, dan ia bereaksi, ia angkat wajahnya kemudian memandangku, aku tersenyum.
“Maaf Kek…bo…boleh saya duduk di sebelah kakek?” Aku bertanya hati-hati, ajaib kakek itu tersenyum padaku. Kemudian aku duduk di sebelahnya.
“Ka… kamu, kamu bisa lihat kakek?” Suaranya tiba-tiba keluar, serak tapi nadanya pelan. Aku kemudian cepat mengangguk.
“Ka… kamu nggak takut lihat kakek?”
“Eng…nggak Kek?” Aku berkata hati-hati. Kakek itu tersenyum, senyum yang bersahabat. Kulihat jelas olehku ia menyimpan kebaikan di wajahnya, walaupun aku tahu ia hanya roh.
“Maaf Kek, Kakek kenapa?” Kuberanikan diri untuk bertanya, tiba-tiba ia sedih.
“Kakek… kakek kecelakaan, nak?” Ujarnya pelan. Aku terperanjat. Kecelakaan katanya?
“Kakek mau nengok cucu kakek di kota, di kebayoran lama sana… tapi, tapi bus yang kakek tumpangi mengalami kecelakaan…!”
Aku terdiam, kulihat kakek itu sedih, ia lalu melanjutkan ceritanya.
“Padahal kakek ingin nengok cucu kakek, sudah sepuluh tahun kakek nggak melihatnya… tapi, tapi akhirnya kakek nggak bisa lihat lagi…” Ujarnya sedih. Air mataku tak terasa menetes, ketakutan yang semula menyelimutiku, hilang tergantikan rasa simpati dan kesedihan.
“Cucu kakek perempuan, mungkin sekarang sudah sebesar kamu… tapi, tapi kakek… kakek sudah nggak bisa menyentuhnya, nggak bisa tertawa bersamanya, dan… kakek sudah nggak bisa membelai rambutnya lagi…”
“Kek…!”
“Ya, Nak?”
“Keluarga Kakek sudah pada tahu?” Tanyaku sedih. Kakek itu tersenyum kemudian ia mengangguk.
“Nak?”
“I…iya, Kek?”
“Siapa namamu?”
“Dyah Kek…?” Sahutku tanpa mengalihkan pandanganku padanya. Kakek itu tersenyum, aku kemudian mengusap air mataku yang menetes sejak tadi, kemudian tersenyum kepadanya.
“Dyah, boleh kakek mohon sesuatu?”
“Ngomong aja kek!” Sahutku cepat. Kakek itu menatapku, kulihat matanya yang sipit dan terluka coba ia buka.
“Kakek boleh membelai rambut Dyah, sebentar saja?” Pintanya memelas. Air mataku menetes lagi, dadaku sesak menahan kesedihan. Segera dengan cepat aku mengangguk.
“Boleh… boleh, kek!”
Tangan kanannya gemetar menyentuh rambutku, telapak tangannya pun bergetar hebat saat membelai rambutku. Aku melihat wajahnya dengan tatapan haru.
“Dyah, orang tuamu pasti bangga punya putri semanis ini, sebaik ini, juga… selembut bidadari…” Puji kakek itu tulus. Aku tersenyum, walau dalam hatiku sedih banget.
“Kakek berharap…cucu kakek sebaik kamu…” Imbuhnya. Air mataku terus menetes, sungguh kasihan sekali ini kakek. Kenapa kakek sebaik ini harus cepat-cepat Tuhan memanggilnya?
“Nak Dyah…?”
“I…iya Kek?” Tanyaku. Kakek itu kemudian menyudahi membelai rambutku.
“Makasih ya, Nak Dyah udah buat hati kakek lega…?”
“Maksud Kakek?” Aku bertanya tak mengerti.
“Nak Dyah sudah mau mendengarkan keluhan kakek, sudah mau ikut berbagi kesedihan sama kakek, kakek udah bisa tenang sekarang….” Ujarnya pelan. Aku menggeleng-geleng sambil menangis.
“Jangan gitu Kek, Dyah iklas kok!” Tuturku. Kakek itu tersenyum lagi.
“Nak Dyah!”
“I…iya Kek?”
“Kembangkan bakatmu, ya? Mungkin suatu hari nanti bakatmu bisa menolong orang…”
“I…iya Kek, pasti!” Aku berkata mantap.
“Kakek senang mendengarnya, Dyah!”
“Dyah!”
“I…iya Kek?”
“Kakek pergi ya? Di sini bukan tempat kakek lagi… kamu juga pulang, orang tuamu udah pasti kuatir…”
Aku melihat kakek itu tersenyum, tiba-tiba kulihat cahaya menyelimutinya.
“Kakek merasa senang bisa kenal sama kamu Dyah, makasih ya?”
“I…iya Kek?” Sahutku. Kakek itu tersenyum, kemudian ia samar-samar menghilang bersama dengan cahaya yang menyelimutinya. Aku kemudian menghapus air mataku, lalu bergegas berdiri. Bersamaan dengan itu keluar serombongan suster dengan pasien yang sudah terbujur kaku di tempat tidur beroda yang mereka dorong, di belakangnya beberapa orang terlihat menangis mengikuti suster-suster itu, di antara rombongan orang-orang itu kulihat seorang anak cewek seumurku, ia memandangku sepintas, dan tersenyum padaku, aku membalasnya. Baru aku tahu pasien itu adalah kakek tadi.
“Hei, gimana?” Adam menyapaku saat aku keluar dari rumah sakit, payungnya sudah ia lipat karena hujan sudah reda. Aku tersenyum, Adam tersenyum juga.
“Makasih ya, Dam?”
“Hmm?”
“Tanpa elo, gue nggak akan berubah-rubah dan akan takut terus….”
Adam tersenyum, tak tahu itu sudah senyumnya ke berapa. Tapi, tiba-tiba sebuah mobil ambulan memasuki pintu gerbang rumah sakit, kemudian berhenti tepat di depanku, pintu mobil itu terbuka, dan keluarlah beberapa perawat membawa tandu yang berisi seorang yang sudah terbujur kaku.
Orang itu berpakaian putih, berkaca mata, dan rambutnya yang panjang ia ikat, wajahnya penuh darah.
“A…adam?” Aku mendesis pelan.
“Ia sudah meninggal!!”
Aku terkejut mendengar dokter memeriksanya, segera ku menoleh melihat Adam yang aku rasakan di belakangku.
“Maafin gue Dyah!” Adam tersenyum kemudian menghilang dari pandanganku.
“Adam…” Aku terdiam tak mampu berkata apa-apa, ternyata cowok yang baru saja aku kenal
ternyata…
“Semoga loe bahagia, Dam!” Aku berbisik pelan sambil kutinggalkan rumah sakit dengan senyum.

Resolusi 2015

Tahun 2014 telah berlalu. Banyak hal telah kulewati, suka duka dan manis pahitnya hidup telah kurasakan. Kini semuanya telah menjadi kenangan. Hal-hal buruk dimasa lalu dijadikan guru agar tak terulang lagi. Dan hal-hal baik dijadikan pacuan untuk jadi lebih baik.
Tahun 2015 ini aku ingin menjalani dengan labih baik lagi. Aku ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aku harus menghilangkan kebiasaan buruk yang sering kulakukan di tahun 2014 dan menggantinya dengan hal-hal baik. Dan sebagai seorang muslimah memperbanyak ibadah mungkin adalah cara yang tepat. Dengan memperbanyak beribadah dan mendekatkan diri pada sang Pencipta aku yakin bisa menjadi seorang gadis rendah hati dengan hati yang sabar dan pemikiran dewasa.
Selain itu sebagai seorang gadis yang kelak akan menjadi ibu rumah tangga tentunya penting buatku untuk menjadi seorang wanita yang pandai memasak dan mengatur keuangan. Menjaga kebersihan dan kesehatan diri juga. Mengingat aku mempunyai pola hidup yang buruk, inilah saatnya merubah menjadi pola hidup sehat.
Namun untuk saat ini aku ingin memfokuskan diri pada sekolahku. Jika di tahun kemaren aku gagal mencapai targetku, aku tidak ingin gagal lagi tahun ini. Aku akan menghilangkan kebiasaan malas yang menghinggapi diriku di tahun 2014 kemarin. Aku akan lebih giat dan sungguh-sungguh dalam belajar. Dan tidak lagi menyianyiakan waktu.
Aku harus bisa menggapai cita-citaku. Jadi aku harus berjuang lebih keras lagi. Lebih tekun lagi. Aku harus bisa lebih unggul dari yang lain. Aku yakin aku bisa. Karena semua demi cita-citaku dan masa depanku.
Desember 2015 yang akan datang. Lihatlah perubahan pada diriku. Aku akan merealisasikan resolusiku ini. Ya Allah, restuilah aku dan mudahkanlah jalanku. Fighting! I can do it!